Hubungan Persepsi Kolaborasi Interprofesi Dengan Budaya Keselamatan Pasien Bagi Dokter – Perawat Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Di Kabupaten Kudus
DOI:
https://doi.org/10.35727/jha.v5i02.228Keywords:
Kolaborasi Interprofesional, Budaya Keselamatan Pasien, Rumah SakitAbstract
Latar belakang: Adverse events (AEs) menjadi hal yang sangat substantial di rumah sakit. Salah satu rekomendasi untuk menurunkan angka adverse events adalah dengan mengimplementasikan budaya keselamatan pasien (patient safety culture). Banyak kejadian medical error yang diakibatkan komunikasi dan koordinasi antar tenaga kesehatan profesional yang kurang baik. Kolaborasi dokter-perawat sangat penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan terhadap pasien, serta menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Budaya keselamatan pasien dan kolaborasi interprofesi antara dokter dan perawat masih menjadi permasalahan di rumah sakit. Jenis profesi, lama masa kerja, dan pengalaman kerja, memiliki dampak terhadap persepsi kerjasama interprofesi dan keselamatan pasien.
Tujuan: Menilai perbedaan persepsi kolaborasi dokter-perawat dan budaya keselamatan pasien berdasarkan profesi, masa kerja, dan antar rumah sakit serta mengukur hubungan antara persepsi kolaborasi dokter-perawat dengan budaya keselamatan pasien.
Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional survei yang dilakukan di tiga rumah sakit di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Populasi penelitian adalah dokter dan perawat di rumah sakit, dengan besar sampel 281 yang diambil secara stratified random sampling. Instrumen menggunakan kuesioner Jefferson Scale of Attitudes Toward Physician-Nurse Collaboration dan Hospital Survey on Patient Safety Culture HSOPSC 2.0 dari AHRQ versi Bahasa Indonesia. Analisis data dengan analisis univariat untuk mendeskripsikan persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien di rumah sakit, dan analisis bivariat untuk menilai perbedaan rerata menggunakan uji Mann Whitney dan Kruskal Wallis serta menilai korelasi dengan uji Spearman.
Hasil: Perawat memiliki persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien lebih baik dibanding dokter (p<0,05). Masa kerja ≥11 tahun juga memiliki persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien lebih baik dibanding ≤11 tahun (p<0,05). Pada dimensi budaya keselamatan pasien, nilai terendah dan membutuhkan perbaikan di ketiga RS terdapat pada dimensi Pengelolaan staf dan ritme kerja, Respon terhadap kesalahan yang terjadi, dan Melaporkan insiden keselamatan pasien. RS A (RS pemerintah) memiliki persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien lebih baik dibanding RS B dan C (RS Swasta) (p<0,05). Terdapat hubungan antara kolaborasi interprofesi dokter-perawat dengan budaya keselamatan pasien (p<0,05).
Kesimpulan: Terdapat perbedaan persepsi kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien menurut profesi, masa kerja dan Rumah Sakit. Kolaborasi interprofesi antara dokter dan perawat berdampak positif pada budaya keselamatan pasien. Rumah Sakit di Kabupaten Kudus perlu meningkatkan budaya keselamatan pasien, dengan dukungan manajemen rumah sakit untuk pengembangan kolaborasi interprofesi dan budaya keselamatan pasien secara berkelanjutan.
Kata Kunci: Kolaborasi Interprofesional, Budaya Keselamatan Pasien, Rumah Sakit
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2023 Rachmadian Akmal

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License
Copyright Notice
An author who publishes in The Journal of Hospital Accreditation agrees to the following terms:
- Author retains the copyright and grants the journal the right of first publication of the work simultaneously licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal
- Author is able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book) with the acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Author is permitted and encouraged to post his/her work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of the published work (See The Effect of Open Access).
Read more about the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 Licence here: https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/.




